Kamis, 26 Februari 2015

Surat Dari " Segumpal Darah "

Papap, Bunda Lusa disini merindukan kalian, apa kalian sudah tidak ingat lagi sama lusa.
Ingatkah papap ketika kamu membiarkan bunda menderita sendirian, tanpa ditemani papap Aku dan bunda merasakan betapa sengsaranya hidup di dunia tanpa papap.
Papap, aku melihat dan terus melihat tetesan air mata  yang dikeluarkan oleh bunda dan merasakan bagaimana hancurnya hati bunda saat itu.
Aku ikut sedih, menangis dan ikut merasakannya pap.
Aku tahu papap gak mau aku hidup kan, tapi apa bunda menginginkan itu.
Hanya bunda yang mau peduli terhadapku pap, aku tahu segalanya tentang bunda.
Disaat papap sedang berusaha menyingkirkanku, bunda mempunyai niatan menolak, dia sekuat tenaga mempertahankanku dan tidak memikirkan masa depannya.
Papap ingat? ketika bunda meminum obat-obatan atau semacamnya yang hanya dia inginkan bukan aku saja yang tiada tetapi bunda juga ingin ikut tiada bersama lusa.
Ketika papap, mulai mengundur-ngundur waktu bunda merasa senang.
Dia memikirkan aku, memikirkan aku agar tetap hidup.
Tiap hari bersama papap, bunda merasa mendingan, di suatu saat papap ketahuan oleh bunda papap selingkuh dibelakang bunda, dan pada saat lusa ada.
Apa papap tidak membayangkan betapa hancurnya hati bunda dan lusa saat itu.
Bunda terlalu sayang terhadap papap, lusa tahu itu.
Apapun dia korbankan demi papap, keluarganya pun dia abaikan.
Disaat papap mencakar bunda, lusa merasakan sakitnya dan betapa luar biasanya sakit yang di derita bunda, lusa ingin membantu bunda menyadarkan papap.
Bahwa lusa ada karena rasa cinta papap dan bunda, papap sudah berani-berani bersumpah di kitab suci agama kita.
Tapi apa papap berbohong, di depan tuhan papap, bunda dan lusa.
Papap, betapa membelanya seorang bunda demi lusa, dia berani mengorbankan dirinya demi lusa. Dia tidak tahu malu, dia hanya sendiri memikul masalahnya.
Suatu malam bunda, ingin pergi dari dunia ini bersamaku pap.
Kemanapun kami hanya berdua, Papap kemana? apa tidak memikirkan kami berdua? kami berdua sangat sayang sama papap.
Tapi apa, kalian membenciku.
Papap, bunda lusa sayang kalian, sangat sayang, begitu juga sebaliknya kan? aku tahu aku belum saatnya ada diantara kalian berdua, tapi itu takdir dan buah hasil perbuatan kalian.
Papap, bunda aku rela kalian semua telah berbuat begitu terhadapku, demi masa depan kalian kan?
kalian janji kan, tidak akan melakukan perbuatan yang sama kepada adikku kelak?
kalian harus janji yah, sekarang aku sudah di tempat yang paling enak (surga) terima kasih papap, bunda kalian sudah mengirimkan aku ketempat yang indah ini.
Papap, bunda kalian harus taubat nasuha yah, biar lusa bisa jemput papap dan bunda, lusa entar bakalan menunggu kalian dan menjemput kalian dan adik-adik lusa yah.
Papap, bunda kalian jangan sampai melakukan kesalahan lagi, aku ingin berkumpul bersama kalian disini.
Disini tempatnya enak pap, bun pasti kalian senang melihat lusa bahagia disini.
Lusa menunggu papap, bunda dan adik-adik lusa.
Lusa selalu berdoa kepada tuhan lusa, semoga kalian bisa bersama sampai akhir hayat.
Lusa akan merasa sedih jika lusa, tidak bisa bersama kalian.
Pokoknya jangan sampai adik-adik lusa seperti lusa yah, inget yah, papap, bunda taubat nasuha.
Papap bimbing bunda yah buat sekarang dan kelak nanti.
Lusa sayang papap dan bunda.

Total Tayangan Laman

Pengikut

Kesehatan