Rabu, 05 Februari 2014

makalah PKN


Kata Pengantar

Dengan mengucap syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, kami dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah ini di buat dengan tujuan untuk melengkapi serangkaian tugas mata pelajaran Pkn yang berjudul “Pengaruh Penggunaan Motor Terhadap Kedisiplinan Siswa SMAN 1 Ciamis”.
Dalam penyusunan makalah ini, tidak sedikit hambatan yang kami hadapi, namun dengan semangat dan dibantu semua pihak akhirnya penulisan makalah ini terselesaikan. Dalam kesempatan ini kami berterima kasih kepada Bapak Supyan Iskandar selaku guru mata pelajaran Pkn, yang telah membantu mengarahkan dan memberi motivasi kepada kami.
Kami sangat menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, sehingga kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan, agar  lebih baik dimasa yang akan datang. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kami khususnya dan dapat memberi manfaat bagi pembaca pada umumya.




Ciamis, 22 Januari 2014


   
     Tim Penyusun




Daftar Isi

Halaman Judul ...................................................................................................... 1
Kata Pengantar...................................................................................................... 2
Daftar Isi .............................................................................................................. 3
Bab I : Pendahuluan
1.1.            Latar Belakang Masalah.................................................................. 4
1.2.            Rumusan Masalah............................................................................ 5
1.3.            Tujuan Penulisan.............................................................................. 6
1.4.            Manfaat Penulisan........................................................................... 7
Bab II : Landasan Teori
         2.1        Penggunaan Motor..........................................................................8-9
        2.2         Kedisiplinan Siswa.....................................................................10-13
Bab III : Pembahasan
        3.1        Analisis Pengguna Motor................................................................. 14
         3.2       Analisis Kedisiplinan Siswa........................................................15-16
         3.3       Solusi...........................................................................................17-18
Bab IV : Penutup
         4.1       Kesimpulan....................................................................................... 19
         4.2       Saran................................................................................................. 20
Daftar Pustaka....................................................................................................... 21
Lampiran............................................................................................................... 22
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Transportasi sebagai teknologi telah berkembang pesat dan menyuguhkan kemudahan. Pertumbuhan alat transportasi dari tahun ke tahun menujukkan kenaikan yang signifikan, terutama transportasi sepeda motor. Pelajar di Indonesia kebanyakan hampir 80% memakai kendaraan roda 2 atau roda 4. Baik di kalangan SMP /SMA hal ini, yang membuat kekhawatiran baik pihak sekolah ataupun pihak masyarakat karena para siswa / siswi kebanyakan menggunakan kendaraan berroda 2 adatu roda 4. Sedangkan mereka rata-rata masih di bawah umur 17 tahun adapun siswa / siswi umur 18 tahun tetapi mereka tidak mempunyai SIM (Surat Ijin Mengemudi).
 Disisi lain, banyak orang tua yang mengijinkan agar mereka mengendarai roda 2 / roda 4 dengan alasan mereka akan lebih cepat ke sekolah meskipun mereka belum cukup umur untuk mendarai kendaraan tersebut, dan juga akan meminimalisir kesiangan ke sekolah. Hal ini di sebabkan karena memakai kendaraan akan lebih cepat atau lebih efisien, akan tetapi banyak sekali resiko yang akan terjadi pada pengendara tersebut. Seperti kecelakaan akibat dari kebut-kebutan, terjadi ugal-ugalan yang akan meresahkan masyarakat, dan terjadi kecelakaan yang mengakibatkan pengendara lain mendapat kerugian.Selain itu, kesiangan dapat menjadi resiko pengendara, besar kemungkinan akan terjadi ban bocor saat di perjalanan atau bensin habis dan itu akan  membuat pelajar  menjadi kesiangan.
Sedangkan, menggunakan angkutan umum dinilai lebih merepotkan dan butuh waktu yang lebih lama untuk menuju ke sekolah.





B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah pengertian motor?
2.      Apa itu kedisiplinan?
3.      Bagaimanakah pengaruh motor terhadap kedisiplinan siswa?
4.      Apakah dampak positif dari penggunaan motor?
5.      Apakah dampak negatif dari penggunaan motor?


























C.     Tujuan Penulisan

1.      Memaparkan sebab-sebab banyaknya penggunaan motor sebagai alat transportasi pada kalangan pelajar di SMA Negeri 1 Ciamis.
2.      Menjelaskan pengaruh penggunaan motor terhadap kedisiplinan siswa di SMA Negeri 1 Ciamis.
3.      Menjelaskan pengertian motor.
4.      Menjelaskan tentang kedisiplinan siswa.



D.    Manfaat Penulisan
1.      Memberikan pengetahuan tentang penggunaan motor di kalangan siswa di SMA Negeri 1 Ciamis.
2.      Memberikan pengetahuan mengenai dampak positif penggunaan sepeda motor terhadap kedisiplinan siswa di SMA Negeri 1 Ciamis.
3.      Memberikan pengetahuan mengenai dampak negatif penggunaan sepeda motor terhadap siswa SMA Negeri 1 Ciamis.
4.      Memberikan pengetahuan tentang kedisiplinan siswa di SMA Negeri 1 Ciamis.




BAB II
LANDASAN TEORI

A.Penggunaan Motor
Motor menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah adalah kendaraan beroda dua yang digerakkan oleh sebuah mesin. Di Ciamis, khususnya SMA Negeri 1 Ciamis,jenis transportasi yang umum ditemui adalah motor. Karena,saat ini sepeda motor bukan lagi jadi barang yang di anggap mewah, sekarang setiap orang dapat dengan mudah memiliki kendaraan roda dua bermesin ini.
Dengan aktifitas sebagai siswa yang cukup padat, siswa melakukan mobilitas yang tinggi, diantaranya yaitu berangkat sekolah,pulang sekolah,berangkat les,latihan ekstrakulikuler ,dan lain sebagainya. Selain itu, tidak semua siswa lokasi rumahnya dilalui kendaraan umum, oleh karena itu motor menjadi alat transportasi penting bagi mereka. Dari hasil obeservasi, dapat disimpulkan bahwa siswa memiliki kecenderungan untuk menggunakan sepeda motor sebagai transportasi utama.
Hal inilah yang memunculkan fenomena bahwa sebagian orang tua siswa memperbolehkan anaknya menggunakan sepeda motor untuk bersekolah. Mau mengantar anak ke sekolah dipandang sangat merepotkan karena orang tua sendiri harus bekerja. Bahkan penggunaan sepeda motor oleh siswa sekolah kadangkala dijadikan ajang gengsi orang tua dan siswa. Banyak siswa yang mengancam tidak mau bersekolah jika tidak diizinkan menggunakan sepeda motor dan bahkan ada sebagian masyarakat yang bangga jika anaknya sudah bisa menggunakan sepeda motor ke sekolah walaupun secara aturan belum memenuhi syarat untuk mengendarai sepeda motor. Ada kemungkikan hal ini terjadi karena minimnya pengetahuan orang tua tentang aturan berlalu lintas atau bisa juga ada orang tua yang sudah tahu, tetapi pura-pura tidak tahu, atau ada juga yang merasa terpaksa untuk mengizinkan anaknya menggunakan sepeda motor walaupun masih dibawah umur. 

Fenomena ini banyak kita saksikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Penggunaan sepeda motor oleh pelajar inilah yang dijadikan salah satu alasan tingginya angka kecelakaan lalu lintas. Bahkan sepeda motor yang sejatinya merupakan sarana transportasi untuk memudahkan mobilitas manusia, seakan-akan telah menjadi mesin pembunuh bagi anak-anak penerus bangsa ini. Untuk itulah perlu penanganan segera dari instansi terkait termasuk Dinas Pendidikan, Dinas Perhubungan, Kepolisian, dan dari stekeholder terkait sesuai dengan kewenangan yang diberikan. 
 Alasan ini sangat masuk akal, mengingat pelajar SD dan SMP sederajat dan sebagian pelajar SMA sebetulnya secara aturan belum memenuhi syarat untuk mengendarai sepeda motor terutama  jika dipandang dari postur fisik, pengetahuan berlalu lintas, dan kematangan berpikir (psikologis). Dengan mengendarai sepeda motor ini bukan hanya membahayakan diri sendiri, tetapi juga membahayakan pengguna jalan lainnya. Ditambah lagi lemahnya pengawasan orang tua, sering menyebabkan anak tersebut lepas kontrol, kebut-kebutan dijalan, membentuk kelompok (seperti gank sepeda motor) dan akhirnya menuju ke arah kriminalitas.
Penggunaan sepeda motor sendiri dapat memberikan dampak positif dan negatif terhadap kedisiplinan siswa. Dampak positifnya, yaitu siswa menjadi tepat waktu datang ke sekolah, biaya jauh lebih murah,dan lebih stylish.Sedangkan dampak negatifnya seperti banyak pelanggaran rambu lalu lintas yang marak terjadi diantaranya penyerobotan lampu merah, parkir sembarangan, dan ugal-ugalan.
            Karena jumlah sepeda motor yang digunakan sangat banyak, maka dibutuhkan tempat parkir yang luas. Di beberapa titik terlihat penggunaan halaman rumah warga sebagai tempat parkir yang justru menurunkan tingkat kedisiplinan siswa. Sedangkan,di tempat parkir sekolah banyak siswa yang memarkirkan motor dengan tidak teratur. Ketidaknyamanan seperti ini memicu tindakan tidak disiplin pada pengendara sepeda motor dengan memarkir kendaraannya di sembarang tempat.






B.Kedisiplinan Siswa
1.Pengertian Disiplin
Konsep disiplin berkaitan dengan tata tertib, aturan, atau norma dalam kehidupan bersama (yang melibatkan orang banyak). Menurut Moeliono (1993: 208) disiplin artinya adalah ketaatan (kepatuhan) kepada peraturan tata tertib, aturan, atau norma, dan lain sebagainya. Sedangkan pengertian siswa adalah pelajar atau anak (orang) yang melakukan aktifitas belajar ( Ibid: 849).  Dengan demikian disiplin siswa adalah ketaatan (kepatuhan) dari siswa kepada aturan, tata tertib atau norma di sekolah yang berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar.
Disiplin mempunyai makna yang luas dan berbeda – beda, oleh karena itu disiplin mempunyai berbagai macam pengertian. Pengertian tentang disiplin telah banyak didefinisikan dalam berbagai versi oleh para ahli. Ahli yang satu mempunyai batasan lain apabila dibandingkan dengan ahli lainnya. Herlin Febriana Dwi Prasti (2005) menguraikan pendapat Andi Rasdiyanah (1995 : 28) tentang pengertian disiplin yaitu kepatuhan untuk menghormati dan melaksanakan suatu system yang mengharuskan orang untuk tunduk pada keputusan, perintah atau peraturan yang berlaku. Dengan kata lain, disiplin adalah kepatuhan mentaati peraturan dan ketentuan yang telah ditetapkan. Sedangkan Depdiknas (1992 : 3) disiplin adalah : “ Tingkat konsistensi dan konsekuen seseorang terhadap suatu komitmen atau kesepakatan bersama yang berhubungan dengan tujuan yang akan dicapai waktu dan proses pelaksanaan suatu kegiatan”.
 Seirama dengan pendapat tersebut diatas, Hurlock (1999 : 82) mengemukakan pendapatnya tentang disiplin tersebut :“ Disiplin merupakan cara masyarakat mengajar anak berperilaku moral yang disetujui kelompok”. Dari berbagai macam pendapat tentang definisi disiplin diatas, dapat diketahui bahwa disiplin merupakan suatu sikap moral siswa yang terbentuk melalui proses dari serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai – nilai ketaatan, kepatuhan, keteraturan dan ketertiban berdasarkan acuan nilai moral. Siswa yang memiliki disiplin akan menunjukkan ketaatan, dan keteraturan terhadap perannya sebagai seorang pelajar yaitu belajar secara terarah dan teratur. Dengan demikian siswa yang berdisiplin akan lebih mampu mengarahkan dan mengendalikan perilakunya. Disiplin memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia terutama siswa dalam hal belajar. Disiplin akan memudahkan siswa dalam belajar secara terarah dan teratur.
2.         Unsur Unsur Disiplin
Unsur- unsur dalam disiplin dijelaskan Hurlock (1999: 84) yaitu terdiri dari empat unsur; peraturan, hukuman, penghargaan dan konsistensi.
a.Peraturan
Peraturan adalah pola yang ditetapkan untuk tingkah laku. Pola itu dapat ditetapkan oleh orang tua, guru atau teman bermain. Tujuanperaturan adalah untuk menjadikan anak lebih bermoral dengan membekali pedoman perilaku yang disetujui dalam situasi tertentu. Setiap individu memiliki tingkat pemahaman yang berbeda. Hal ini disebabkan oleh tingkat perkembangan individu yang berbeda meskipun usianya sama. Oleh karena itu dalam memberikan peraturan harus melihat usia individu dan tingkat pemahaman masing – masing individu.
b.Hukuman
Hukuman berasal dari kata kerja latin, “punier”. Hurlock (1999: 86) menyatakan bahwa hukuman berarti menjatuhkan hukuman pada seseorang karena suatu kesalahan , perlawanan atau pelanggaran sebagai ganjaran atau pembalasan.
c.Penghargaan
Penghargaan merupakan setiap bentuk penghargaan untuk suatu hasil yang baik. Penghargaan tidak harus berbentuk materi tetapi dapat berupa kata – kata pujian, senyuman atau tepukan di punggung. Banyak orang yang merasa bahwa penghargaan itu tidak perlu dilakukan karena bisa melemahkan anak untuk melakukan apa yang dilakukan. Sikap guru yang memandang enteng terhadap hal ini menyebabkan anak merasa kurang termotivasi untuk belajar. Oleh karena itu guru harus sadar tentang betapa pentingnya memberikan penghargaan atau ganjaran kepada anak khususnya jika mereka berhasil. Bentuk penghargaan harus disesuaikan dengan perkembangan anak. Bentuk penghargaan yang efektif adalah penerimaan sosial dengan diberi pujian. Namun dalam penggunaannya harus dilakukan secara bijaksana dan mempunyai nilai edukatif, sedangkan hadiah dapat diberikan sebagai penghargaan untuk perilaku yang baik dan dapat menambah rasa harga diri anak.
d.Konsistensi
Konsistensi berarti tingkat keseragaman atau stabilitas. Konsistensi tidak sama dengan ketetapan dan tiada perubahan. Dengan demikian konsistensi merupakan suatu kecenderungan menuju kesamaan. Disiplin yang konstan akan mengakibatkan tiadanya perubahan untuk menghadapi kebutuhan perkembangan yang berubah. Mempunyai nilai mendidik yang besar yaitu peraturan yang konsisten bisa memacu proses belajar anak. Dengan adanya konsitensi anak akan terlatih dan terbiasa dengan segala yang tetap sehingga mereka akan termotivasi untuk melakukan hal yang benar dan menghindari hal yang salah.
3.Tujuan pendisiplinan siswa di sekolah
Tujuan pendisiplinan siswa menurut Wendy Schwartz (2001) ,yaitu “the goals of discipline, once the need for it is determined, should be to help students accept personal responsibility for their actions, understand why a behavior change is necessary, and commit themselves to change”. Hal senada dikemukakan oleh Wikipedia (1993) bahwa tujuan disiplin sekolah adalah untuk menciptakan keamanan dan lingkungan belajar yang nyaman terutama di kelas. Di dalam kelas, jika seorang guru tidak mampu menerapkan disiplin dengan baik maka siswa mungkin menjadi kurang termotivasi dan memperoleh penekanan tertentu, dan suasana belajar menjadi kurang kondusif untuk mencapai prestasi belajar siswa.
Keith Devis mengatakan, “Discipline is management action to enforce organization standarts” dan oleh karena itu perlu dikembangkan disiplin preventif dan korektif. Disiplin preventif, yakni upaya menggerakkan siswa mengikuti dan mematuhi peraturan yang berlaku. Dengan hal itu pula, siswa berdisiplin dan dapat memelihara dirinya terhadap peraturan yang ada. Disiplin korektif, yakni upaya mengarahkan siswa untuk tetap mematuhi peraturan. Bagi yang melanggar diberi sanksi untuk memberi pelajaran dan memperbaiki dirinya sehingga memelihara dan mengikuti aturan yang ada.

4.Faktor faktor yang mempengaruhi kedisiplinan siswa
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kedisiplinan yaitu:
• Diri sendiri

• Keluarga

• Pergaulan di Lingkungan

Brown (dalam
http://akhmadsudrajat.wordpress.com) mengelompokkan beberapa penyebab perilaku siswa yang indisiplin, sebagai berikut :
a.Perilaku yang tidak disiplin bisa disebabkan oleh guru.
b. Perilaku tidak disiplin bisa disebabkan oleh sekolah; kondisi sekolah yang kurang menyenangkan, kurang teratur, dan lain-lain dapat menyebabkan perilaku yang kurang atau tidak disiplin.
c. Perilaku tidak disiplin bisa disebabkan oleh siswa , siswa yang berasal dari keluarga yang broken home.
d. Perilaku tidak disiplin bisa disebabkan oleh kurikulum, kurikulum yang tidak terlalu kaku, tidak atau kurang fleksibel, terlalu dipaksakan dan lain-lain bisa menimbulkan perilaku yang tidak disiplin, dalam proses belajar mengajar pada khususnya dan dalam proses pendidikan pada umumnya.





BAB III
PEMBAHASAN

Keberadaan sepeda motor sebagai alat transportasi yang praktis telah membawa budaya praktis di kalangan  pengendara sepeda motor khususnya siswa SMA Negeri 1 Ciamis.  Pengendara merasa nyaman dengan waktu tempuh yang relatif singkat serta biaya yang murah.
            Budaya praktis pada sepeda motor lambat laun mengakar pada pengendaranya, khususnya siswa. Rasa peduli pada lingkungan, menghormati sesama penggguna jalan, serta budaya hemat tergeser dengan budaya praktis berkendara secara ugal-ugalan, berkendara dimanapun, dan boros bahan bakar.
            Berikut grafik atas penyebab penggunaan sepeda motor di SMAN 1 CIAMIS.
 













            Data pada grafik 1.1 menunjukkan bahwa dari 100 orang responden dari kalangan siswa, sebanyak 51% (51 orang) siswa memilih sepeda motor sebagai alat transportasi karena alasan waktu tempuh yang relatif cepat. Selain itu,dengan menggunakan sepeda motor siswa lebih leluasa ‘menerobos’ keadaan jalan yang ramai bahkan macet dengan alasan takut kesiangan. Hasilnya banyak pengendara sepeda motor mengabaikan dan melanggar rambu-rambu serta aturan yang berakibat pada musibah di jalan raya.
Jawaban cepat pada tabel juga dapat kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari, bahwa untuk menempuh jarak yang dekat sekitar 500 meter, tujuh dari sepuluh siswa atau sekitar 70% memilih untuk menggunakan sepeda motor sebagai alat transportasi utama.
            Penggunaan yang sering dan pada radius kecil memicu longgarnya kedisiplinan. Kami telah melakukan pengamatan di SMA Negeri 1 Ciamis selama 2 hari dengan memberikan angket ke setiap tingkatan siswa, diantaranya siswa kelas X, kelas XI, dan kelas XII . Pengisian angket ini bertujuan untuk menghitung jumlah pengguna motor yang memiliki kedisiplinan yang baik di SMA Negeri 1 Ciamis serta berapa banyak pengendara yang tidak disiplin.
Berikut ini grafik atas kedisiplinan siswa SMAN 1 CIAMIS yang merupakan pengguna motor.

68

32

20

79

80
 















Berdasarkan grafik 1.2 dapat diambil kesimpulan secara umum bahwa adanya peenggunaan motor cukup memberikan dampak yang baik bagi siswa SMA Negeri 1 Ciamis,tetapi memang masih ada beberapa siswa yang kurang mentaati aturan berlalu lintas dan masih tetap kesiangan walaupun menggunakan motor. Sikap praktis dan ingin mengefektifkan waktu tempuh juga menjadi alasan utama sikap praktis berkendara tanpa helm.
            Sikap praktis juga terlihat pada kondisi tempat parkir yang tidak rapi. Pengendara sepeda motor yang datang di akhir memilih memarkir kendaraannya di tempat yang terjangkau atau tidak mau repot menempatkan motor pada sisi yang tersedia tempat parkir. Keadaan ini di pengaruhi oleh jumlah kendaraan yang di parkir.
Dengan mengabaikan dampak kepadatan, gas emisi, penggunaan bahan bakar, serta faktor keselamatan, siswa cenderung nyaman dengan penggunaan sepeda motor. Penggunaan pada setiap aktifitas mengakibatkan budaya praktis. Budaya praktis semakin terpelihara dengan situasi serta kondidi jalan yang macet serta keadaan tidak nyaman yang ditimbulkan.
Selain itu terlihat dari grafik di atas bahwa ada sekitar 23% siswa yang memodifikasi motornya. Keadaan seperti ini dikarenakan siswa lebih mementingkan gaya dibandingkan keamanan dirinya sendiri. Ada juga sekitar 36% siswa yang menggunakan motor tetapi mereka tidak mempunyai SIM (Surat Ijin Mengemudi). Hal ini menunjukkan bahwa siswa tersebut tidak mematuhi peraturan berlalu lintas.



C.SOLUSI

1. Memberikan pengetahuan berlalu lintas dan menanamkan rasa disiplin.

Pengetahuan berlalu lintas bertujuan untuk meminimalisir terjadinya kecelakaan lalu lintas. Selain itu, dari faktor postur tubuh sebagian pelajar terutama jenjang SD dan SMP masih jauh dari kondisi ideal untuk mengendarai sepeda motor. Disamping itu pada usia dibawah 17 tahun kondisi psikis dan pola pikir anak dianggap masih labil dan belum siap diberikan tanggungjawab untuk mengemudikan sepeda motor. Walaupun sudah diberikan pemahaman tentang tata cara berlalu lintas, ada kalanya pelajar ini melupakan aturan dan etika ketika sedang mengendarai sepeda motor harapan untuk menekan angka kecelakaan lalu lintas pun sangat kecil untuk dicapai.
Orang tua pun harus bersedia menanamkan rasa disiplin, maka para siswa akan berkendara dengan tertib. Lebih-lebih, bila para wali murid meneliti kelengkapan surat dan peralatan berkendara. Dengan itu, tingkat keselamatan para siswa di jalan raya juga akan lebih baik.  Tingkat kecelakaan lalu lintas sekaligus bisa ditekan dengan baik. Mengendarai motor disertai surat dan kelengkapan kendaraan komplet akan membuat siswa tidak waswas terjaring operasi patuh lalu lintas. Mereka pun berangkat ke sekolah dengan rasa tenang demi satu tujuan menggapai ilmu.


2.      Penggunaan Sepeda ke Sekolah (Bike To School)
Salah satu solusi yang dapat dilakukan, yaitu dengan penggunaan sepeda untuk bersekolah bagi siswa yang belum cukup umur untuk menggunakan motor ke sekolah. Hal ini tentu saja sangat sejalan dengan banyak kebijakan yang ditetapkan di Indonesia seperti “Indonesia Go Green”, “Indonesia Sehat”, “Hemat BBM” dan lain-lain. Namun saat ini pamornya kalah dengan penggunaan sepeda motor yang dianggap lebih praktis, tidak memerlukan tenaga, lebih cepat dan lain.lain.
Perlu disadari bahwa penggunaan sepeda untuk ke sekolah ini tentunya akan banyak memberikan manfaat bagi siswa dan masyarakat secara umumnya. Berikut ini manfaat penggunaan sepeda untuk ke sekolah.
-          Hemat BBM
-          Mengurangi Polusi Udara
-          Sehat
-          Murah
-          Sangat mungkin untuk jarak tempuh hingga 10 km.




















BAB IV
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Berdasarkan pemaparan di atas penulis menyimpulkan bahwa:
1.      sepeda motor menjadi alat transportasi utama siswa di SMA Negeri 1 Ciamis.
2.      meski sepeda motor memberikan dampak positif pada efisiensi waktu, namun muncul juga dampak negatif pada pengendara sepeda motor khususnya siswa yang tidak tepat waktu datang ke sekolah.
3.      pengguna sepeda motor di kalangan pelajar SMA Negeri 1 Ciamis pada umumnya sudah disiplin dalam berkendara dan mematuhi tata tertib.














B.     SARAN

Berdasarkan kesimpulan yang telah kami paparkan, kami merekomendasikan agar dilakukan langkah-langkah lain yang lebih preventif, yaitu pendidikan lalu lintas kepada pelajar. Bentuknya bisa dalam bentuk penyuluhan, penyebaran selebaran, melibatkan pelajar dalam kampanye keselamatan berlalu lintas, pemutaran film, dan sebagainya. Polisi bisa secara pro aktif datang ke sekolah atau pihak sekolah mengundang aparat polisi untuk memberikan penyuluhan keselamatan berlalu lintas kepada pelajar. Melalui cara itu, diharapkan muncul kesadaran dari pelajar terhadap pentingnya keselamatan berlalu lintas, pentingnya kedisiplinan dan sebagainya. Meskipun memahami alasan siswa memakai sepeda motor ke sekolah tanpa SIM, pihak sekolah tetap perlu melakukan penyadaran.
Selain  itu keluarga dapat memberikan sarana fasilitas yang mendidik  kepada siswa seperti fasilitas olahraga, seni, atau yang lainnya agar mereka berkegiatan positif. Jika mereka tidak diberi motor, waktu belajar mereka akan lebih banyak dan waktu main mereka sedikit dikurangi.




DAFTAR PUSTAKA

Kamus Besar Bahasa Indonesia Online, Available: kbbi.web.id/transportasi , diakses 22 Januari 2014
Disiplin Berlalu Lintas Dimulai di Rumah: http://m.suaramerdeka.com, diaskes 23 Januari 2014
Sepeda Motor : http://id.wikipedia.org/wiki/sepedamotor, diaskes 23 Januari 2014
Sekolah Bangun Kedisiplinan Berlalu Lintas Siswa: http://edukasi.kompas.com,
diaskes 22 Januari 2014
Disiplin: http://id.wikipedia.org/wiki/Disiplin,diaskes 22 Januari 2014























 

Total Tayangan Laman

Pengikut

Kesehatan